Sabtu, 03 April 2021

Wanita Pembawa Air

Kisah ini diriwayatkan dari sahabat Imran bin Hushain al Khuza'i RA. Suatu ketika Nabi SAW bersama rombongan pasukan kehabisan air dan beberapa orang kehausan. Beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib dan seorang sahabat lainnya untuk mencari air. Mereka berdua bertemu seorang wanita yang mengendarai untanya dengan membawa dua mazadah (tempat air dari kulit). Ali meminta air padanya atau diberitahukan tempat memperoleh air, tetapi wanita tersebut berkata, "Kemarin aku telah berjanji untuk membawakan air pada kaumku, dan saat ini mereka telah menunggu!!" Bukan maksudnya ia menolak menunjukkan dimana mata air itu berada, tetapi jika harus mengantar sampai kesana, ia akan terlambat memenuhi janjinya kepada kaumnya. Ali memakluminya, tetapi ia menyuruh wanita tersebut untuk berjalan terus sehingga bertemu Rasulullah SAW. Wanita itu berkata, "Apakah yang kalian maksudkan adalah orang yang disebut ash Shabi (pembawa agama baru) itu?" Mereka membenarkan, kemudian mengiring wanita tersebut menemui Nabi SAW. Setelah menceritakan keadaan wanita tersebut, beliau menyuruh wanita tersebut turun. Beliau minta dibawakan bejana-bejana persediaan air dan beliau mengisinya dengan air dari satu mazadah. Dengan mazadah yang lain, beliau menyuruh seluruh rombongan untuk minum dan memberi minum binatang-binatang mereka. Sungguh suatu mu'jizat, air dalam mazadah yang sebenarnya tidak seberapa banyaknya seakan tidak ada habisnya. Kemudian Nabi SAW mengisikan air pada bejana lainnya untuk mandi bagi orang yang sedang berjunub. Wanita pembawa air yang masih musyrik tersebut hanya berdiri tercengang memperhatikan semua peristiwa tersebut. Setelah semua anggota pasukan menyelesaikan keperluannya dengan air tersebut, dua mazadah itu diletakkan kembali di unta sang wanita, keadaannya tidak berkurang, bahkan lebih penuh daripada sebelumnya. Nabi SAW menyuruh orang-orang untuk mengumpulkan makanan sebagai pemberian kepada wanita tersebut. Wanita tersebut dinaikkan ke atas onta, dan makanan yang terkumpul, seperti tamar, tepung dan susu dibungkus dengan kain dan diletakkan di depannya. Nabi SAW bersabda kepadanya, "Engkau tahu, kami tidak mengurangi sedikit pun air milikmu, hanya Allah yang memberi minum kepada kami…" Ketika sampai kepada kaumnya, wanita tersebut ditegur karena keterlambatannya. Ia pun menceritakan apa yang dialaminya, kemudian ia berkata, "Demi Allah, sesungguhnya ia seorang tukang sihir yang pandai di antara ini (ia menunjuk langit dan bumi) atau ia memang seorang Rasulullah…" Akhirnya pasukan muslimin menyerang dan menaklukan kaum musyrikin, tetapi kampung tempat tinggal wanita tersebut dikecualikan, hanya dilewati tetapi tidak diserang atau didatangi. Maka wanita tersebut berkata kepada kaumnya, "Saya kira kaum muslimin dengan sengaja tidak menyerang kalian, karena itu, Islamlah kalian…!" Mereka memenuhi anjuran wanita tersebut, dan bersama-sama mereka memeluk Islam.

Khalid Bin Sa'id Bin Ash Ra

Khalid bin Sa'id bin Ash RAtermasuk dalam kelompok awal yang memeluk Islam (as Sabiqunal Awwalun). Uniknya, yang memotivasi dirinya memeluk Islam adalah sebuah mimpi. Khalid bermimpi sedang berada di sebuah tepian nyala api yang begitu besar. Ayahnya yang hadir saat itu, bukannya menolong keluar dari jilatan api tapi justru mendorongnya. Untunglah ada Nabi SAW yang menahan kain ikat pinggangnya hingga ia tidak jatuh ke dalam api. Setelah bangun, Khalid meyakini bahwa mimpinya itu benar. Ia menemui sahabatnya, Abu Bakar dan menceritakan mimpinya. Abu Bakar pun menyatakan, kalau hanya kebaikan yang dikehendaki bagi Khalid dengan mimpinya itu. Ia diajak menemui Rasulullah SAW, dan bertemu dengan beliau di suatu tempat bernama Ajyad di Mekkah. Beliau menjelaskan risalah Islam yang beliau dakwahkan, dan mengajak Khalid memeluk Islam. Khalid menerima ajakan Nabi SAW karena keyakinan akan kebenaran mimpinya tersebut. Setelah keislamannya, Khalid pergi menghilang. Ayahnya, Sa'id bin Ash yang mengetahui anaknya memeluk Islam, menyuruh orang-orang untuk mencarinya. Setelah ditemukan ia memaki-maki anaknya tersebut dan mencambuknya, serta mengancam tidak akan memberinya makan. Tapi sebagai cermin keimanan di hatinya, Khalid berkata, "Jika engkau tidak memberiku makan, maka sungguh Allah yang mengaruniakan rezeki padaku, akan membuatku bisa terus hidup." Mendengar jawaban tersebut sang ayah langsung mengusirnya. Khalid memutuskan menemui Rasulullah SAW dan akan selalu mengiring beliau, walaupun ia harus kehilangan banyak sekali fasilitas dan kenyamanan dalam hidupnya sebelum itu. Ketika Nabi SAW menghimbau sahabatnya untuk hijrah ke Habasyah, Khalid memenuhi anjuran beliau, mengikuti rombongan yang dipimpin oleh Ja'far bin Abu Thalib. Khalid baru bertemu lagi dengan Nabi SAW ketika beliau telah memerintahkan agar para sahabat di Habasyah berhijrah ke Madinah, saat itu Nabi SAW dan para sahabat dalam perjalanan pulang setelah selesainya perang Khaibar. Setelah itu Khalid senantiasa mengikuti pertempuran bersama Nabi SAW. Bahkan sebelum wafatnya, beliau mengangkatnya menjadi gubernur Yaman. Ketika ia mendengar Nabi SAW wafat dan Abu Bakar dikukuhkan sebagai khalifah, ia menjadi salah satu orang yang tidak setuju. Ia sangat mengenal berbagai kelebihan Abu Bakar dan kedudukannya di sisi Nabi SAW karena ia memang salah seorang sahabat Abu Bakar di masa jahiliah. Hanya saja ia berpendapat bahwa yang paling berhak memegang jabatan khalifah adalah Bani Hasyim, misalkan Ali bin Abi Thalib atau Abbas. Karena itu ia meninggalkan jabatannya di Yaman, dan kembali ke Madinah, tetapi ia tidak mau berba'iat kepada Abu Bakar. Berlalulah waktu, Abu Bakar tetap menghargainya walaupun ia menolak berba'iat. Sampai suatu ketika Khalid menerobos barisan atau shaf-shaf di masjid menuju Abu Bakar yang berdiri di atas mimbar, ia memegang tangan Abu Bakar dan berba'iat dengan segala ketulusan hatinya. Suatu ketika Abu Bakar mempersiapkan pasukan ke Syria, dan ia menyerahkan salah satu panji-panji pertempuran kepada Khalid. Tetapi sebelum pasukan berangkat, Umar menyarankan untuk mengganti Khalid sebagai pemegang panji, dan Abu Bakar bisa menerima alasan Umar.Khalid menerima kabar tersebut dengan biasa, dan ketika Abu Bakar hadir di rumahnya untuk meminta maaf, ia berkata, "Demi Allah, tidaklah saya gembira dengan pengangkatan anda, dan tidak juga bersedih dengan pemberhentian anda dari jabatan tersebut….!!" Abu Bakar membebaskannya untuk memilih di pasukan mana ia akan bergabung, Amr bin Ash yang masih anak pamannya, atau Syurahbil bin Hasanah, atau lainnya lagi. Khalid-pun berkata, "Anak pamanku aku sukai karena ia masih kerabatku, tetapi Syurahbillebih kucintai karena agamanya!" Khalid bergabung dengan pasukan yang dipimpin Syurahbil, sedang yang menjadi komandan dari seluruh kesatuan adalah Abu Ubaidah bin Jarrah. Khalid menikahi janda Ikrimah bin Abu Jahal, Ummu Hakim di perjalanan jihad melawan tentara Romawi, di suatu tempat bernama Marjush Shafar. Setelah pernikahan itu, Khalid ingin beristirahat berduaan dengan istrinya sebagaimana pengantin baru, tetapi Ummu Hakim berkata, "Sekarang kita sedang diserang musuh dari segala arah, sebaiknya kita melawan mereka dahulu!!" "Saya yakin," Kata Khalid, "Saya akan menemui syahid pada pertempuran ini..!!” Mendengar penuturan suaminya itu, Ummu Hakim memenuhi permintaan Khalid. Mereka menghabiskan malam pengantin di tenda sederhana, sementara musuh siap menyerang. Keesokan harinya, Khalid menerjunkan diri dalam pertempuran, menyerang dan menerjang musuh dengan perkasa, sehingga akhirnya gugur sebagai syahid. Ketika masih bersama Nabi SAW di Madinah, ia pernah membawa putrinya yang masih kecil, Ummu Khalid menghadap Nabi SAW dengan memakai baju kuning. Beliau memuji keindahan baju tersebut dan menyuruhnya untuk tetap memakainya sampai habis/rusak. Khalid sempat memarahi putrinya tersebut karena bermain-main dengan cincin kenabian, tetapi beliau menyuruh membiarkannya.

Thulaib Bin Umair Ra

Thulaib bin Umair masih saudara sepupu Nabi SAW, ia memeluk Islam ketika Nabi SAW masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi di Darul Arqam, sehingga bisa dikatakan ia sebagai kelompok as Sabiqunal Awwalin. Setelah keislamannya, ia menemui ibunya, Arwa binti Abdul Muthalib, dan mengatakan kalau dirinya telah menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW dan berserah diri kepada Allah. Menanggapi pengakuannya tersebut, sang ibu berkata, "Sesungguhnya yang lebih berhak kamu bantu adalah anak pamanmu itu (Muhammad SAW), demi Allah jika kami mampu melakukan seperti yang dilakukan oleh kaum lelaki, sudah pasti aku akan mengikuti dan melindunginya." Saat itu Nabi SAW memang banyak mengalami halangan, cacian dan penyiksaan dalam mendakwahkan Islam. Mendengar jawaban ibunya tersebut, Thulaib berkata, "Apakah yang menghalangi ibu mengikutinya, padahal saudara laki-laki ibu, Hamzah, telah memeluk Islam?" "Aku akan menunggu apa yang dilakukan oleh saudara-saudara perempuanku, kemudian aku akan menjadi seperti mereka," Kata Arwa. Tetapi Thulaib tidak puas dengan jawaban ibunya ini, ia terus mendesak dan berkata, "Sesungguhnya aku meminta dengan nama Allah, agar ibu menemuinya (yakni Nabi SAW), mengucapkan salam dan membenarkannya, dan mengucapkan kesaksian kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah." Melihat tekad dan kesungguhan Thulaib dalam mengajaknya kepada Islam, akhirnya Arwa luluh juga. Pada dasarnya ia memang ingin membela Nabi SAW yang masih keponakannya sendiri, ketika begitu banyak orang yang memusuhi dan menyakitinya. Ia akhirnya berkata, "Jika memang begitu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh-Nya." Thulaib merasa gembira dengan keputusan ibunya, apalagi ia selalu didorong untuk membantu Nabi SAW dan juga menyiapkan kebutuhan Nabi SAW dalam perjuangannya.

Hakam Bin Kaisan Ra

Dalam Perang Badar, Hakam bin Kaisan yang berperang di pihak kaum kafir Quraisy ditawan oleh Miqdad bin Amr. Pimpinan Miqdad ingin memenggal kepala Hakam, tetapi Miqdad memutuskan untuk menyerahkannya pada Rasullullah SAW. Beliau mengajak Hakam untuk memeluk Islam, tetapi Umar bin Khaththab yang saat itu bersama Rasullulah pun pesimis akan Islamnya Hakam, melihat bagaimana kerasnya permusuhannya kepada Islam selama ini. Karena itu ia juga menyarankan untuk membunuh Hakam saja. Tetapi Nabi SAW, dengan pandangan beliau yang jauh menembus waktu dan tempat, mengabaikan saran Umar tersebut. Dengan sabar beliau menjelaskan tentang Islam, dan akhirnya Hakam masuk Islam. Maka Rasulullah bersabda, "Kalau saja aku memenuhi keinginan kalian beberapa saat yang lalu, tentu ia masuk neraka!" Itulah salah satu bentuk kecintaan Rasulullah SAW kepada umat beliau, jauh lebih besar daripada kecintaan seorang ibu terhadap anak kandungnya sendiri. Hakam pun selalu memperbaiki keislamannya, sehingga akhirnya ia menjadi salah satu sahabat yang hafal Al Qur'an. Waktupun berlalu, suatu ketika datang seseorang bernama Abu Bara' Amir bin Malik ke Madinah, Nabi SAW menyerunya untuk masuk Islam tetapi ia menolak. Namun demikian dia menyarankan Nabi SAW mengirim rombongan dakwah ke daerah Najd untuk menyeru kepada Islam. Tetapi Nabi khawatir akan keselamatan mereka karena daerah tersebut memang masih sangat rawan kejahatan. Tetapi Abu Bara' meyakinkan beliau, dan dengan segala pengaruhnya di sana, ia akan menjamin keselamatan rombongan dakwah tersebut. Karena itu beliau mengirim tujuhpuluh orang sahabat pilihan penghafal Qur'an dipimpin oleh Mundzir bin Amr, dan salah satunya adalah Hakam bin Kaisan. Rombongan ini kemudian dikhianati dan dibantai oleh Amir bin Thufail dan sekutunya di Bi'r Ma'unah tanpa tersisa, termasuk Hakam bin Kaisan, kecuali satu orang, Ka'ab bin Zaid bin An Najjar yang pura-pura mati walau terluka terkena tombak. Sungguh beruntung nasib Hakam bin Kaisan, dari calon penduduk neraka karena melawan Nabi SAW di Perang Badar, kemudian menjadi penduduk surga karena syahid di Bi’r Ma’unah.

Barra Bin Malik Ra

Barra bin Malik adalah seorang sahabat Anshar yang kurus dan bermata cekung. Ia masih saudara tua Anas bin Malik, sahabat sekaligus pelayan Nabi SAW yang banyak meriwayatkan hadits-hadist Nabi SAW. Barra bin Malik memiliki keberanian dan semangat juang sangat tinggi, kontras sekali dengan penampilan tubuhnya yang kurus kecil. Ia tidak takut kepada musuh apapun dan selalu merindukan untuk mati syahid. Karena itu ketika menjadi khalifah, Umar bin Khaththab pernah menulis surat pada wakil-wakilnya untuk tidak menjadikan Barra sebagai komandan pasukan, dikhawatirkan ia akan membawa pasukannya kepada kemusnahan, walau memang mati syahid, karena semangat jihadnya yang terlalu tinggi. Pasukan yang dibentuk Khalifah Abu Bakar RA untuk menumpas pasukan Nabi Palsu Musailamah al Kadzab di Yamamah, pertama kali dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal, tetapi dapat dipukul mundur pasukan Musailamah. Pasukan kedua yang dipimpin oleh Khalid bin Walid juga sempat kocar-kacir, sebelum akhirnya Khalid merubah strategi dengan mengelompokkan pasukan sesuai kabilah dan golongannya, Barra diserahi untuk memimpin kaum Anshar. Riwayat lainnya menyebutkan dipimpin oleh Tsabit bin Qais bin Syammas, yang tidak lain masih pamannya sendiri. Atau bisa jadi, Barra sebagai komandannya dan Tsabit sebagai pembawa panji dari kelompok Anshar. Dengan strategi ini pasukan Musailamah dipukul mundur dan berlindung dalam bentengnya yang kokoh, pasukan muslim sempat kesulitan menembus benteng karena dikelilingi tembok yang tinggi dan pintu yang terkunci rapat, sementara itu panah-panah menghujani mereka dari atas. Barra mengambil inisiatif beresiko tinggi untuk menjebol kebuntuan tersebut. Di dekat pintu gerbang benteng, ia duduk di atas sebuah perisai dan berkata kepada pasukannya, "Lemparkanlah aku ke dalam benteng dengan perisai ini, aku akan syahid, atau aku akan membukakan pintu gerbang ini untuk kalian!" Sepuluh orang memegang perisai tersebut kemudian melemparkan Barra ke atas benteng. Tubuhnya yang kurus kecil dengan mudah melampaui dinding benteng, dan dengan pedang terhunus ia jatuh dikumpulan pasukan musuh yang menjaga pintu gerbang. Dengan semangat tinggi Barra menyerang mereka dan setelah melumpuhkan sepuluh orang, ia berhasil membuka pintu gerbang benteng dan membuka jalan bagi pasukan muslim memasukinya. Akhirnya Pasukan Musailamah dan Bani Hanifah dapat dikalahkan dan nabi palsu itu terbunuh oleh tombak Wahsyi bin Harb, tombak yang sama yang telah mengantarkan Hamzah kepada syahidnya di Perang Uhud. Sungguh suatu tebusan yang setimpal. Dalam pertempuran Yamamah ini, Barra berhasil membunuh seorang tokoh kepercayaan Musailamah yang dikenal sebagai Muhkam al Yamamah, atau Kaldai Yamamah, seorang lelaki tinggi besar dengan pedang berwarna putih. Atau mungkin juga mereka dua orang yang berbeda, yang keduanya dibunuh oleh Barra. Ketika kembali ke kemahnya, Barra mengalami delapanpuluh lebih luka tusukan pedang dan anak panah. Namun dengan ijin Allah luka-luka itu akhirnya sembuh dalam waktu satu bulan. Semangat Barra untuk memperoleh syahid terus berkobar, karena itu pertempuran demi pertempuran diikutinya. Tibalah pertempuran melawan tentara Persia di Tustar dimana ia juga terjun di dalamnya. Pasukan muslim berhasil memukul mundur pasukan Persia dan mengepung benteng kota Tustar, benteng pertahanan terakhir mereka. Pasukan Persia bertahan dengan mengulurkan rantai--rantai besi panas yang ujungnya diberi pengait untuk menghalau pengepungnya, layaknya sedang memancing ikan. Mereka yang terkena kaitan dan ditarik ke atas benteng, nasibnya tidak akan beda jauh dengan ikan yang terkena pancingan nelayan. Beberapa orang muslim terkena kaitan dan ditarik ke atas, salah satunya adalah Anas bin Malik, saudara Barra bin Malik. Melihat hal itu, Barra bergerak cepat untuk menyelamatkan saudaranya. Ia mencoba melompat dan memegang rantai besi tetapi tangannya jadi terbakar dan melepuh, namun demikian ia tidak berhenti berusaha sehingga akhirnya ia berhasil menaiki tembok dan memotong tali di atas rantai sehingga Anas bisa selamat. Nabi SAW pernah bersabda, bahwa kadang-kadang ada orang yang berpakaian dua kain lusuh dan tidak diperdulikan (karena remeh keadaannya), tetapi jika dia bersumpah dengan nama Allah, maka Dia akan mengabulkannya, di antara mereka ini adalah Barra bin Malik. Begitu kuatnya pertahanan benteng Tustar, kalauterus berlarut-larut seperti itu, bisa-bisa tentara muslim akan kalah, maka beberapa sahabat yang menjadi saksi akan sabda Nabi SAW tersebut, segera meminta agar Barra berdoa dan bersumpah untuk kemenangan kaum muslimin. Barra memenuhi permintaan mereka ini. Ia berdoa, "Aku bersumpah kepadaMu, wahai Rabbku, berikanlah tengkuk-tengkuk mereka kepada kami, dan pertemukanlah aku dengan NabiMu…!” Usai berdoa, bersama beberapa pasukan muslim lainnya, ia berusaha menyerang dan merusak pintu gerbang benteng yang begitu kokoh. Dan dengan pertolongan Allah mereka bisa menjebol benteng pertahanan Tustar, kemudian menyerang dan memporak-porandakan pasukan Persia. Barra sendiri berhasil berhadapan dengan Marzaban az Zarih, seorang pembesar dan pahlawan Persia yang telah terkenal, dan akhirnya ia berhasil membunuhnya. Tetapi keadaan Barra sendiri juga terluka parah, dan seperti permintaan doanya, ia gugur sebagai syahid dalam pertempuran ini.Peristiwa ini terjadi di masa khalifah Umar bin Khaththab.

Qatadah Bin Nu'man

Nabi SAW pernah diberi hadiah sebuah busur panah, kemudian beliau memberikan busur itu kepada Qatadah bin Nu'man. Dengan busur itulah Qatadah berjuang di perang Uhud. Ketika posisi pasukan muslimin berbalik dari kemenangan menjadi kekalahan, Nabi SAW dalam keadaan terkepung dan dihujani anak panah, tanpa keraguan Qatadah “pasang badan” untuk melindungi beliau dari depan sambil terus menyerang dengan panahnya, bahkan ia melindungi wajah beliau dengan wajahnya sendiri. Satu anak panah tepat mengenai matanya sehingga bola matanya lepas dan jatuh di telapak tangannya. Nabi SAW menangis ketika melihat keadaannya, dan beliau berdoa, "Ya Allah, Sesungguhnya Qatadah telah melindungi wajah NabiMu dengan wajahnya sendiri. Maka jadikanlah matanya yang rusak itu lebih baik dan lebih tajam penglihatannya daripada mata satunya….!" Setelah itu Nabi SAW mengambil bola mata tersebut dari tangan Qatadah dan meletakkannya di tempatnya, dan sungguh suatu mu'jizat, seketika mata Qatadah sembuh dan lebih baik keadaannya dari mata satunya. Setelah sembuh, Qatadah kembali menerjunkan diri ke medan pertempuran.

Rafi' Bin Amirah Bin Jabir Ra

Rafi' bin Amirah bin Jabir tengah mengembalakan kambing, ketika seekor serigala berhasil menerkam salah satu kambing gembalaannya yang paling besar. Rafi' pun berjuang melepaskan kambingnya dari terkaman serigala tersebut, sambil berkata, "Mengherankan, bagaimana mungkin serigala mau membawa buruan yang lebih besar dari dirinya sendiri?" Setelah berhasil membebaskan kambing tersebut dari cengkeraman serigala, tanpa disangka serigala itu berkata, "Lebih mengherankan lagi kamu, kau ambil dariku rezeki yang ditakdirkan Allah untukku." Ibnu Amirah sangat terkejut dan berkata, "Sungguh mengherankan serigala bisa berbicara." Ternyata serigala itupun masih berbicara lagi, "Lebih mengherankan lagi orang yang keluar dari Tihamah, ia mengajak kalian ke surga namun kalian enggan, justru kalin ingin masuk neraka." Rafi' bin Amirah memang telah mendengat tentang risalah agama baru, yakni Islam yang dibawa Nabi SAW. Karena itu begitu mengalami peristiwa mengherankan dimana serigala bisa berbicara, bahkan membenarkan kenabian Nabi Muhammad SAW, segera ia datang kepada beliau. Sementara Nabi SAW telah memperoleh berita tentang Ibnu Amirah tersebut dari Jibril AS.Karena itu, begitu Rafi' tiba di hadapan Nabi SAW dan belum sempat menceritakan apa yang dialaminya, beliau telah mendahului menceritakan pengalamannya dengan serigala yang berbicara tersebut, sehingga tanpa keraguan lagi, ia pun membenarkan Rasulullah SAW dan masuk Islam

Wanita Pembawa Air

Kisah ini diriwayatkan dari sahabat Imran bin Hushain al Khuza'i RA. Suatu ketika Nabi SAW bersama rombongan pasukan kehabisan air dan ...